Mari silahkan dibaca, mungkin sambil duduk-duduk, ngopi ato minum teh juga bisa :)

Ulasan Denon AH-C252

IEM ini adalah seri kedua yg ane punya, setelah sebelumnya nyobain IEM-nya Philips.

Setelah nyoba dengan beberapa lagu bisa ane simpulkan kalo dari sisi bass dia lumayan kerasa, midnya jelas bgt, sayang kadang kerasa sibilance pada musik-musik yg rada ngerock, intinya pada musik2 dengan gitar listrik. Performa terbaiknya ane perhatiin pada musik dengan banyak instrumen perkusi, macam dari Safri Duo atau dari yg akustik kaya D’Cinnamons. Tapping pada drum kerasa bersih banget, hentakan-hentakan di pada daerah mid oke banget.

Dari sisi separasi saya bilang juga cukup bagus antara pemisahan antar instrumen, walaupun pada musik akustik kadang vokal kerasa dominan bgt hampir2 ngalahin bunyi instrumennya. Mungkin memang karakter IEM ini cenderung ke bright daripada warm.

[Kemasan]
Terbungkus dalam box kecil disertai 3 ukuran eartips, satu unit AH-C252, dan satu kantong kecil.

[Spesifikasi]
Impedansi: 16 ohm
Sensitivitas: 100dB/mW
Maximum Input: 100mW
Frekuensi: 20-23000 Hz

[Penampakan]

Denon AH-C252

Sekian dan terima kasih :)

Tags:, , ,

Belajar Pelan

Hidup di kota besar seperti Jakarta, seringkali merubah ritme kita menjadi serba cepat, seringkali juga membuat kita menjadi terburu-buru. Di rumah ingin cepat-cepat makan, mandi dan kemudian pergi kerja. Di jalan ingin cepat-cepat sampai di tempat kerja, tak sabar menunggu lampu merah, lalu lintas yang merambat, lampu merah yang terasa begitu malas. Di tempat kerja juga tak jauh berbeda, kita ingin menyelesaikan pekerjaan secepatnya, tak sabar dengan kolega yang lelet, internet yg lemot, bahkan jarum jam juga jadi sasaran kekesalan kita karena tak segera menunjuk angka 12. Inti kata kita tak suka dengan sesuatu yg lambat, sesuatu yg pelan.

Memang adalah manusiawi jika menemui suatu permasalahan kita ingin cepat selesai. Namun apakah benar dengan menjadi cepat maka semua permasalahan kita akan segera selesai? Seorang kawan dari Jakarta yg sempat singgah di Jogja pernah curhat soal keinginannya untuk tinggal di Jogja. Selain alasan lelah dengan kemacetan dan ritme kerja yg cepat dia juga merasa waktu melambat di Jogja. Seolah kebanyakan orang Jogja tak kenal dengan istilah terburu-buru, masih sering kita jumpai warganya(terutama yang sudah bukan anak muda lagi) menaiki motor dengan pelan, naik sepeda jengki dengan santai bahkan sesekali mampir dulu untuk ngobrol dengan rekan yg bertemu di jalan, berbasa-basi bertukar kabar dan cerita. Sesuatu yg langka di Jakarta.

Sebenarnya tak ada yg salah dengan cepat, namun seringkali hanya kosakata itu yang kita kenal dalam hidup. Kita seringkali lupa untuk pelan, untuk beberapa jenak dalam sehari mengurangi kecepatan kita. Disini mungkin juga hikmah mengapa Allah mengajari kita untuk sholat lima waktu dalam sehari. Sebagai jeda, bak koma dalam kalimat.  Namun ya seringkali juga kita(saya juga termasuk lho) sholatnya pun pakai ilmu cepat. Bacaannya cepat, sampai-sampai selesai sholat tadi tak ingat sudah baca surat apa saja. Kalau menjadi makmum juga tak ingat imamnya baca apa. Dari sini jeda yg sudah disiapkan Allah untuk hambanya, juga menjadi tidak efektif. Akibatnya lelah juga menjadi kosakata yg akrab dengan hidup kita sehari-hari ketika kita senantiasa berlari dan lupa untuk beristirahat.

Mungkin ada baiknya juga mulai saat ini kita belajar pelan. Belajar untuk menikmati dan meresapi apa yg kita lakukan. Yang paling sederhana, belajar untuk tidak tergesa. Saya pernah mencoba sedikit pelan, dengan tidak memikirkan apa yg akan saya lakukan kemudian, tidak melamun soal masalah-masalah dan masa depan. Namun dengan melihat dan mengamati orang di sekitar kita, ternyata hidup di sekitar kita amatlah menarik, mulai dari orang yg bertelepon diatas motor dengan cara menjepit hapenya ke dalam helm, membaca stiker2 lucu di spatbor motor depan, hingga menyadari betapa beruntungnya saya ketika melihat anak jalanan dan pengemis di pinggir jalan. Itu adalah saat dimana kita menjadi tergelitik, tersenyum, dan tercerahkan. Apakah pengamatan yang meresap diatas akan didapatkan melalui ketergesaan? Saya rasa tidak. Karena agar sesuatu bisa meresap dengan baik, meninggalkan bekas dalam hati butuh waktunya sendiri, butuh pelan. Satu kosakata yang ingin saya kenal kembali dan latih untuk menyeimbangkan kecepatan yang selama ini mendominasi. Terlebih lagi dalam beberapa hari ke depan kita akan masuk bulan Ramadhan, bulan yang mulia. Akan sayang sekali bila kita menjalaninya dengan tergesa tanpa makna. Marilah kita bersama belajar pelan, dalam arti kata untuk lebih khusyuk dalam beribadah kepada-Nya, lebih meresapi gerak dan arti kata dalam sholat kita, agar hidup ini tak lagi sekedar letih semata.

Basshead Reborn

Dulu waktu saya masih sekitar SMP, pernah dikasi suatu penawaran sama kakak perempuan saya yg sedang menjalani magang di Singapore. Tawarannya simpel, mau Walkman Aiwa apa tas ransel Planet Hollywood? Tanpa berpikir lama, otak ekonomi saya yg memutuskan dari sisi keawetan, memilih walkman. Sejak saat itu walkman tersebut menjadi barang kesayangan, memutar beberapa tembang dari koleksi kaset Gigi, Dewa 19, Pure Saturday, dan siaran radio juga tentunya. Waktu itu pula saya menemukan sebuah metode pelarian saya, mematikan lampu kamar, mendengarkan walkman dengan earphone yg ditekan ke telinga. Kemudian saya akan terbang dalam dunia saya sendiri, menikmati keunikan tiap nada, ketukan dan petikan. Kesendirian adalah keistimewaan dalam definisinya sendiri.

Beberapa saat setelah itu udah rada jarang dengerin lewat earphone or headphone, terutama ketika komputer yg dipakai di kantor jogja mendapat amanah sebage siaran radio tidak resmi, beberapa request sering mengalir seperti lagunya Glenn (*lirik Neni), lagunya Marcel (*lirik Pipit) dan lagu2 dari Mulan Jamilah (*jelas Awink ini).

Dan kini setelah bertemu PX-100, pendengaran saya bak dirombak besar2an, dari 2 ke 7 (skala 1-10). Tapi buat saya sebenernya angka 7/8 pun sudah pernah saya dapatkan dengan syarat ditekan itu td, tp kurang aman dan kurang higienis (hiiy…). Semakin menegaskan juga klo saya pada dasarnya adalah seorang basshead (itu lho yg suka dengering yg jedug2), dan kini saya dilahirkan kembali.

Love is in the detail

Beberapa waktu yang lalu, rekan Iwan a.k.a Adi Kurniawan menanyakan alasan kenapa memilih iPhone yg relatif harganya jauh lebih mahal dibanding handphone bertouch-screen yg kini sudah membanjir mulai dari Blackberry Storm, SE Xperia, Samsung Omnia, LG Arena dan masih banyak lagi. Padahal sekilas dari fitur kumpulan hape yang disebut tadi boleh jadi memiliki beberapa keunggulan teknis dibandingkan iPhone. Namun entah mengapa kesemua fitur itu tidak bisa memalingkan saya dari tetap memilih produk si apel perak ini.

Jawaban dari pertanyaan tadi buat saya cukup simpel sebagaimana judul tulisan ini. Cinta terletak pada detail. iPhone, selain desain dan bentuknya yang manis, memiliki gabungan fitur-fitur kecil yang belum pernah saya lihat pada gadget yang lain. Dan menariknya fitur2 ini justru baru saya ketahui ketika memilikinya. Jadi sebenernya pemilihan iPhone juga bisa dibilang berdasarkan intuisi bahwasanya gadget inilah yg terbaik untuk saya, sehingga alternatif secantik apapun koq rasanya menjadi kurang menarik. Meminjam tagline salah satu iklan Mercy, The Best or Nothing. Tapi intuisi tadi juga bukan impian tak berbobot dengan tujuan sekedar nggaya or ngetrend, namun terdapat beberapa alasan lain kenapa cinta saya tak bisa berpaling (cuih….) yaitu diantaranya:

Karakter dan Kualitas. Banyak yang bisa meniru fitur, tampilan, interface, namun sangat sulit untuk meniru kualitas, dan lebih sulit lagi untuk meniru karakter. Nge-hang dan virus boleh dibilang sangat jarang terdengar terjadi pada produk2 Apple, menandakan reliabilitas dan stabilitas sangat dijaga dalam produk2nya. Dalam hal karakter, ketika produsen hape berlomba-lomba untuk terus meluncurkan produk terbarunya dalam berbagai wujud, fitur dan warna, Apple memilih berbeda. Perubahan wujud iPhone yg nyata terlihat hanyalah iPhone 4, fitur tentunya mengalami peningkatan dari satu model ke model yang lain, namun warna hanya hitam dan putih. Seolah Apple tak ingin memusingkan kita dengan berbagai ragam corak tersebut. Simpel.

Sedikit kita bandingkan dengan pilihan hape dari LG misalnya, ketika kita tertarik dengan LG Cookie, terdapat  4 pilihan hape dengan kodenya sendiri(Cookie, Pop, Wi-Fi, dan Fresh), sama halnya dengan SE Xperia yang saat ini punya 3 versi (Xperia, Xperia Mini dan Xperia Mini Pro). Namun jika kita buka web untuk iPhone kita hanya temukan versi 3GS dan 4. Dalam percakapan sehari-hari akan jauh lebih mudah untuk menjelaskan iPhone dibandingkan bila kita ditanya Xperia tuh bentuknya kaya apa ya?

Dampak lain dari karakter ini, harga jual kembali relatif stabil, dibandingkan dengan produk lain yg penggantinya, dari pabrikan yang sama, muncul dalam hitungan bulan.

Sentuhan kecil nan cantik. Tombol di muka gadget ini cuman satu. Berfungsi semacam tombol Home atau kembali ke daftar menu. Gak pake ribet ada tombol lain macam buat ngangkat dan nutup tilpun, karena gadget ini memang lebih dari sekedar tilpun. Dalam browser Safari yg disertakan bila kita mengetik alamat suatu situs, terdapat tombol disebelah spasi yg berjudul “.com”, fitur ini saya anggap sebanding dengan penemuan tombol “00″ pada kalkulator tukang sayur dan tukang hitung, berfungsi mempercepat proses dan memudahkan.

Beli Racun Telinga

Nha…masih menyambung posting sebelumnya, kali ini lebih berfokus ke pembelian racun telinga, ehehehe…Setelah baca review dari beberapa situs(referensinya saya taro di catatat kaki) dan bahkan juga join milis Audiophile Indonesia, yang sangat berguna dalam menambah ilmu per-kuping-an, akhirnya diputuskan untuk membeli Sennheiser PX-100 II. Alesannya, tipe ini merupakan pengembangan dari PX-100 yg sudah sangat dikenal kualitasnya, terutama untuk tipe basshead seperti saya ini. Memang sih dari pengemasan dia cuman pake pouch/kantong, sementara PX-100 dan PX-80 sudah pakai hard case.

Awal ngetes pake lagu andalan Sweet Disposition bener2 sesuai harapan, bass dan kejernihan suaranya memang te o pe, worthed lah. Dicoba yg model2 nge-beat bisa dilayani dg luar biasa, apalagi model Safri Duo sama Black Eyed Peas wah cocok banget, kayak panci sama tutupnya. Tapi pas nyoba lagu2 metal yg cadas kyknya kurang pas beberapa instrumen masih campur aduk. Namun tujuan intinya tercapai, toh saya juga kurang suka sama model2 lagu metal.

PX-100 II ini buat saya juga merupakan upgrade gede2an dari Philips SHP 1900 sebelumnya, yg dari kejernihan udah cukup bagus namun belum bisa melakukan pemilahan instrumen ke kanal suara yg sesuai.

Rate: 8/10

Berikut referensi yang digunakan:

  1. Sennheiser PX-100 vs PX-100 II
  2. [Mini Review] Sennheiser PX-100 II

Racun Telinga

Kemarin saya menjadi korban keracunan. Kronologisnya begini, seperti biasa kawan Faizal datang bertandang ke kantor kami yang mirip akuarium. Awalnya dia memergoki saya yang sedang bekerja dengan earphone di telinga. Tak lama kemudian dari tasnya dia mengeluarkan yg awalnya mirip seperti wadah kacamata yg ternyata berisi headset. Lalu saya pun mencobanya. Saya tak sadar bahwasanya ini merupakan titik balik kehidupan audio saya (lebay). Suara Dougy Mandagi saat melantunkan Sweet Disposition menjadi begitu kaya. Tiap instrumen seolah punya channelnya sendiri untuk sambungan ke telinga. Dan yg paling kentara adalah bass-nya, ya, bass-nya, maknyus, mantap namun bersih, bak tinju Mike Tyson dibungkus bantal bulu angsa.

Sambil manggut-manggut saya kembalikan headset itu ke empunya sambil berkata, “wah satu level di atas Philips yang ane pake neh…eh beberapa level deng”. Lha ya gimana gak beda kelas, selama ini dengerin mp3 di laptop pake Philips yg dilengkapi dengan microphone alias dioptimalkan buat chat. Tapi klo dipikir-pikir bukannya saya hampir gak pernah chat pake microphone yak. Selepas pulangnya Faizal ke kantornya saya pun langsung googling produk fenomenal apa sih tadi itu. Sempet ngelirik juga sih klo merknya Sennheiser dengan tipe PX-100, sebuah headset yang bisa dilipat dan dilengkapi hard-case bak kacamata.

Hasil pelacakan di beberapa website, diantaranya audiophile Indonesia, beberapa situs luar negeri memunculkan cerita sebuah legenda. Singkat kata PX-100 ini spesialis bass, tapi gak cuman asal jedag jedug saja, namun juga memberi kejernihan dalam bass-nya. Yang lebih menarik lagi, di pasaran udah agak susah mencari model ini berhubung sudah discontinue, alternatifnya adalah PX-80 yang katanya sama persis atau PX-100 II, sang penerus.

Tags:, , ,

GMapEZ memang mudah

Beberapa waktu lalu mencoba aplikasi GMapEZ, sebagemana namanya script Javascript ini memang sangat memudahkan kita dalam pembuatan peta berbasiskan Google Maps. Beberapa fungsi-fungsi yang disediakan diantaranya:

  • Menampilkan peta dasar dengan kontrol peta yang mudah dikostumisasi
  • Menampilkan marker dan info window melalui tag <a> dan <div>
  • Menampilkan popup diatas marker
  • Pengaturan Zoom peta
  • Menampilkan garis lurus pada peta

Memang fitur-fitur yang ditawarkan belumlah selengkap fitur yang ditawarkan oleh GoogleMaps API, namun kemudahan penggunaan GMapEZ disertai dengan contoh membuat script ini menarik untuk diimplementasikan. Experimen saya dengan GMapEZ ini bisa dilihat di http://demo.sc-drr.org. Selamat berkarya!

Tags:, , ,

5 Modul Wajib di Drupal

Dalam perjalanan per-Drupal-an saya menemukan 5 modul yang penting sekali ada, berikut daftar modul dan alasannya:

  1. DHTML Menu, Kadang suka males pas ngeklik menu-menu admin kita kudu nunggu loading halamannya slese, apalagi klo pas ngutak-atik konfigurasi situs musti kudu bolak balik sana sini. Nah, untung ada modul ini jadinya pas ngeklik suatu menu akan muncul anak menunya dalam hierarki pohon. Menu ini juga bisa diterapkan pada Primary, Secondary dan menu kustom yang kita buat.
  2. Poormanscron, Salah satu fungsi yang sering digunakan pada Drupal adalah menjalankan cron untuk berbagai fungsi maintenance pada Drupal, dengan adanya modul ini cron akan dijalankan setiap kali suatu halaman di-refresh/di-load. Namun memang modul ini sudah tidak digunakan lagi di Drupal 7 berhubung akan menjadi bagian dari Core Module itu sendiri, yay!
  3. CKEditor, Drupal selama ini memberikan kebebasan pada pengguna untuk memilih wysiswg editornya sendiri. Setelah sebelumnya memakai FCKeditor, saya kemudian mantap memakai port-nya yaitu CKEditor karena tampilannya yang clean mirip dengan WordPress. Jangan lupa juga untuk mengunduh engine-nya.
  4. IMCE, Modul ini sangat memudahkan kita dalam melakukan upload file/gambar ke dalam situs, dan modul ini juga dapat diintegrasikan dengan berbagai modul editor, CKEditor salah satunya.
  5. Google Analytics, Sebagaimana namanya, modul ini digunakan untuk menambahkan fungsi statistik dari Google Analytics ke situs Drupal kita, yang perlu kita lakukan setelah instalasi hanyalah memasukkan kode tracking yang kita miliki. Modul ini juga menyediakan berbagai pilihan konfigurasi, seperti memonitor node/user/roles tertentu, memonitor file apa saja yang diunduh, dan masih banyak lagi.
Tags:,

Menampilkan Blog di Facebook

simplaris blogcastTerus terang saya termasuk orang yang belum rajin untuk menulis, tapi saya pengen banget bisa banyak nulis. Seringkali suka iri, secara positif tentunya, kepada mereka yang suka menulis. Gak dipungkiri juga kalo frekuensi ber-facebook cukup kenceng, dan disana saya juga suka baca tulisan2 orang di notes. Pernah juga nulis beberapa notes di FB namun setelah dipikir-pikir lagi, koq kayanyan enak di blog ya. Dalam artian orang yang baca posting kita bakal lebih banyak, karena asumi saya notes itu hanya bisa diakses oleh pengguna FB(bener gak tho?).

Beberapa waktu yang lalu, ada saudara yang ingin blog tempat jualannya muncul di halaman FB-nya, udah jadi hal yang umum orang2 jaman sekarang buka lapak di FB maupun di blog. Wah kasus menarik nih, setelah googling sana sini, nemu aplikasi FB dengan titel Simplaris Blogcast, settingannya cukup sederhana tanpa mengurangi fitur-fitur yang ada didalamnya. Diantaranya bisa memilih menampilkan teks saja atau lengkap dengan gambar dan pemilihan tempat munculnya blog di halaman FB kita. Aplikasi ini dikembangkan oleh Jeff Wiens, yang masih berprofesi sebagai mahasiswa. Kok tahu? Lha soalnya di page FBnya dia bilang

“Sorry for the lack of response regarding support questions. I am currently in graduate school in the applied mathmatics program and don’t have time to provide support. Thanks for your patience.”

Baik ya mas Jeff, selain kuliah masih disempatkan menulis aplikasi yang berguna buat orang lain. Hehehe…sebenernya posting ini juga dalam rangka mencoba apakah postingan saya bisa sukses muncul di page FB :D .

Update: Ternyata gagal menampilkan blog berhubung ada pesan tabel MySQL yang rusak dan harus diperbaiki :hammer: batal neh nampangin blog di FB :(

Update (lagi): Eh si Facebook udah support export blog ke notes rupanya, sip sip sip….ndak usah pake aplikasi tambahan dunk jadinya

Tags:, ,

MapWindow: Open Source Desktop Mapping

Tadi malem liat lowongan kerjaan di milis DevJobsIndo, sebuah milis yg mengkhususkan diri pada lowongan di bidang development/pembangunan. Yg menarik ada lowongan GIS OpenSource,  biasanya orang-orang pemetaan yg saya kenal(paman Goop salah satunya, Awink gak punya blog sih :p) memakai software closed source, koq ini ada buka khusus open.

Awalnya sempet terlintas di pikiran, oh mungkin pakai GRASS, tapi setelah dicek ternyata menggunakan MapWindow.  Cukup banyak institusi pemerintah di Amerika yg menggunakan software GIS ini,seperti  NOAA dan US EPA. Berbeda dg GRASS yang awalnya dikembangkan oleh US Army, MapWindow ini dikembangkan oleh kalangan akademisi. Cukup menarik membaca sejarahnya, dimana MapWindow ini dikembangkan karena adanya keterbatasan MapObject LT keluaran ESRI.

Tags:, , ,
© 2008 Blognya Iyan is powered by WordPress